Anak Infestasi Utama
TOPWUI.com -Mempunyai anak yang pintar merupakan
kebanggan bagi orang tua. Tak ayal, untuk mendapatkan sebuah kebanggaan itu
orang tua rela merogoh uang dalam-dalam. Kemudian yang terjadi adalah si anak
dipaksa kerja keras banting tulang untuk belajar dari pagi sampai siang. Sorenya
digunakan untuk les sedangkan malamnya kembali belajar dan mengerjakan PR. Melihat
anaknya disiplin membuat orang tua senang. Apabila si anak jenuh, sebagian
orang tua memarahi dan sebagian orang tua lagi memberi hadiah berupa gadget
atau apapun yang membuat anak senang.
Lantas pertanyaannya dasarnya
adalah, dimana posisi Tuhan ?. Perlu diingat dalam buku Markesot bertutur karya
Cak Nun, Tuhan adalah Dzat yang harus dinomorsatukan. Ketika malaikat bertanya,
siapa Tuhanmu ?. Maka sesungguhnya esensi dari pertanyaan itu adalah siapa yang
engkau nomorsatukan didunia ini ?. Matematika kah ?, les musik kah ?, tau
rengking. Pentingnya mendidik anak untuk menomorsatukan Tuhan adalah tugas
wajib bagi orang tua. Orang tua seyogyanya bisa lebih proporsional mendidik
anak, mengenalkan bahwa Tuhan adalah segalanya, tanpa campur tangan Nya tidak
ada manusia sukses. Selain memberikan pengertian, berikan juga contoh. Karena
kecenderungan anak adalah mengikuti tingkah laku orang tua.
Baca Juga:
Baca Juga:
(Emotional Spiritual Quotient) Ary Ginanjar Agustian mengatakan. Kecerdasan
intelektual hanya berperan sekitar 10-20 persen saja dalam menentukan
kesuksesan, dimana 80 persen adalah kecerdasan emosi. Kecerdasan yang 80 persen
inilah yang belum disadari oleh para orang tua, yang padahal merupakan inti
dari kesuksesan itu sendiri. Orang bangga melihat anaknya pintar. Mendapatkan
rengking pertama, padahal beliau tidak tau jika jiwa anaknya sedang kosong. Bila
ada nilai yang buruk segera memfonis jika si anak malas dan dituntut untuk
lebih giat lagi. Perlakuan diskriminasi semacam ini yang kadang disalah artikan
oleh anak, bahwa orang tua itu jahat. Lantas jika sudah seperti ini, siapa yang
harus disalahkan. Semua merasa benar
Pendidikan umum memang penting tapi
pendidikan agama lebih penting. Terkadang masyarakat sering salah tafsir,
pendidikan agama hanya diartikan sebagai salah satu pelajaran disekolah.
Padahal itu hanya sebagian kecil, pendidikan agama dimulai sejak kecil, dewasa
hingga akhirnya menua. Aplikasinya pun dilakukan setiap detik dalam hidup. Dimulai
bagaimana cara bersyukur, menerima nasip, perjuangan hidup dan menyikapi
kegagalan. Jadi tidak salah apabila pendidikan agama memang mutlak diutamakan.
Mengajarkan pendidikan agama dasar
sejak dini adalah langkah yang harus dilakukan. Para orang tua diharapkan bisa
mengajari anak kejujuran, tanggung jawab dan toleransi. Karena semua itu adalah
nilai-nilai Islam yang mulai pudar. Kemudian setelah itu, menjelang anak
memasuki usia SD. Sebisa mungkin diajarkan untuk sholat dan puasa. Ajak meraka
untuk mulai mengenal masjid, membaca Al-Qur’an dan pengajian. Kebiasaan orang
jaman dulu, sehabis magrib membaca Qur’an, seiring perkembangan zaman kebiasaan
itu malah ditinggalkan karena kalah dengan acara-acara di televisi.
Jika sudah begitu, para orang tua
sebisa mungkin memfilter anak-anak meraka ketika menonton acara tv. Kegiatan
menonton tv sebaiknya juga dijadwal sedemikian rupa sehingga si anak tidak lupa
dengan tugas utamanya. Porsi antara ibadah, sekolah dan hiburan diseimbangkan
agar tumbuh kembang anak juga bisa seimbang. Karena banyak sekali acara-acara
tv yang anak sukai namun justru berdampak buruk bagi mereka. Adegan-adegan yang
dilarang oleh agama pun diperagakan sedemikian rupa hingga tercipta menjadi
sebuah kelumrahan.
Mengajarkan pendidikan pada anak
memang susah-susah gampang. Namun jika berhasil, efeknya juga luar biasa. Seperti
yang diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa anak yang sholeh amalnya akan terus
mengalir meskipun orang tua meningal dunia. Dosa sebesar apapun Insyaalloh akan
terampuni jika mempunyai investasi anak yang sholeh. Anak yang sholeh buka anak
yang pintar matematika, fisika dan kima. Anak yang sholeh adalah anak yang selalu
berbakti dan mendoakan kepada orang tuanya, taat pada Alloh dan Rosulnya. (Penulis Fajar Arianto)
Baca Juga:
Baca Juga:

Belum ada Komentar untuk "Anak Infestasi Utama"
Posting Komentar
Terimakasih Telah Berkunjung Silahkan Tinggalkan Komentar.